ssstPaham Radikalisme yang terjadi di masyarakat saat ini semakin terbuka, bahkan sudah semakin mudah tersebar. Terlebih lagi dengan adanya kasus Negara Islam Irak dan Syam/Syiria (ISIS) yang pahamnya juga mulai tersebar ke negara ASEAN. Mudahnya paham radikalisme tersebut menyebar rupanya bukan hanya karena adanya faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Namun juga karena pengaruh dari perkembangan dunia internet, paham tersebut semakin mudah tersebar di dunia, termasuk ke negara-negara ASEAN. Paham Radikalisme yang menyebar dengan mudah hingga ke negara-negara ASEAN tersebut pun tak menutup kemungkinan akan mempengaruhi masa depan negara-negara ASEAN.

Demikian pemaparan Prof. Bilver Singh, selaku Dosen pada Department of International Relations, National University of Singapore (NUS) saat menjadi pembicara dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh Ahmad Syafi’i Ma’arif School of Political Thought and Humanity Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kuliah umum yang diselenggarakan pada Sabtu (10/10) ini bertempat di Ruang Sidang gedung Pascasarajana UMY lantai 4, Kampus Terpadu UMY.

Dalam penjelasannya, Prof. Bilver menyatakan bahwa penyebaran Radikalisme di ASEAN saat ini sangat terlihat dan dilakukan secara terbuka, seperti yang terjadi di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand. Salah satu faktor penyebab tersebarnya paham tersebut juga melalui internet yang telah berkembang saat ini. Melalui jejaring internet, penyebaran paham radikalisme tersebut disebarluaskan. Akibatnya, banyak masyarakat yang mengetahui paham radikal hingga masuk ke dalamnya. “Sebuah data penelitian mengungkapkan bahwa saat ini, banyak masyarakat dunia yang mengakses website terkait penyebaran paham radikalisme. Hal ini tentunya menandakan bahwa penyebaran radikalisme ini sudah cukup mendunia dan tidak hanya terjadi di kawasan Asia,” jelasnya.

Hal lainnya menurut Prof. Bilver yang menjadikan seseorang itu radikal adalah karena adanya faktor lingkungan keluarga. Penyebaran paham radikalisme tersebut akan juga dengan mudah dan cepat masuk di dalam lingkup keluarga. “Keluarga menjadi salah satu faktor lainnya yang juga bisa menjadi sarana dari masuknya paham radikalisme. Penyebaran melalui lingkup keluarga ini merupakan langkah awal yang kemudian masuk ke masyarakat, bahkan hingga antar negara,” ujarnya.

Karena itulah, ia menyarankan agar masyarakat dunia tidak hanya berdiam diri dan pasrah dengan permasalahan radikalisme ini. Prof. Bilver menyebut penyebaran paham radikalisme tersebut sebagai sebuah tantangan yang harus dihadapi dan dilihat secara kritis. Karena masuknya radikalisme itu bukan hanya berkaitan dengan agama, atau khususnya Islam, melainkan juga berhubungan dengan politik dan ekonomi dalam suatu negara. “Oleh karena itu, butuh adanya pengaruh kebudayaan untuk menangani penyebaran radikalisme ini, khususnya di ASEAN. Revolusi yang dilakukan dengan pendekatan kebudayaan, diharapkan mampu menekan penyebaran radikalisme. Selain itu, dibutuhkan pula interaksi yang erat antar negara ASEAN untuk menangani penyebaran paham radikalisme ini. Karena pada dasarnya, ASEAN adalah kita dan bukan sebuah organisasi yang terpisah,” tutupnya.