Penting dalam dunia bisnis, Yogyakarta mempertahankan identitasnya termasuk juga identitas berbahasa. Banyak hal yang berbeda dalam penggalian kearifan lokal. Hal tersebut dituangkan Prof. Dr. Jan Van der Putten dalam presentasinya yang berjudul Cross Culture Management yang disampaikan dalam kuliah umum MM UMY yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa MM UMY tanggal 16 Agustus 2013 di ruang AR Fachruddin A.


Profesor Putten, adalah professor bidang kajian lintas budaya dari Hamburg University Jerman memaparkan beragam keunikan budaya di berbagai belahan dunia. Dalam diskusi tersebut Ketua Program Magister Manajemen UMY, Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono menjelaskan bahwa lulusan sekolah bisnis harus mengembangkan fleksibilitas dan skema berpikir global. Ini sangat membantu memahami kearifan lokal masing-masing regional.

Dalam diskusi tersebut, Prof Putten banyak mengutip penelitian budaya yang ditulis Hofstede yang terdiri atas dimensi-dimensi masculinity-feminity; uncertainty avoidance; individualism-collectivism; power distance dan long term orientation. Demikian pula ilustrasi sejumlah aplikasi penting masing-masing dimensi pada sejumlah negara tertentu seperti Amerika Latin, USA, negara-negara di Eropa, Jepang dan negara-negara di Asia timur serta negara-negara di Asia tenggara dan lain-lain.

Dalam diskusi ini, Prof. Dr. Heru mengenalkan salah satu keunikan mahasiswa MM UMY yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ia memberi contoh bahwa peserta kuliah saat itu saja sudah mewakili Indonesia. Ada yang berasal dari Padang, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Maluku dan NTB. Ini adalah modal pembelajaran luar biasa yang dimiliki MM UMY pungkasnya.