Yogyakarta, Pada hari Rabu, 21 Juni 2017, Magister Manajemen UMY bekerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri Daerah Istimewa Yogyakarta (KADIN DIY) dalam mengadakan Academic and CEO Sharing #4th Series bersama Sandiaga Salahuddin Uno, B.A., M.B.A, Ibu Yunastuti Daud, S.E., M.A. (KADIN) dan Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono dengan tema “ Strategi Pembelajaran Kewirausahawan Untuk membentuk Wirausaha Tangguh dan Berdaya Saing ”. Acara yang bertempat di Ruang Amphitheater gedung Pascasarjana.

Perekonomian Indonesia masih terus bertumbuh dan diprediksi pada tahun 2018 akan mencapai angka 5.6 persen. Angka tersebut diperkirakan mampu untuk mempercepat pengurangan kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan sosial secara bertahap, kemudian apa yang harus dilakukan untuk mencapai angka tersebut? “Strategi agar kita bisa mencapai angka tersebut adalah dengan mendorong pengadaan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga untuk mengurangi pengangguran,” ujar Sandiaga Salahuddin Uno, B.A., M.B.A..

Menurut Sandiaga “bahwa pihak yang bertanggung jawab untuk menyediakan lapangan bukan hanya pemerintah, bukan juga sektor yang berkaitan dengan BUMD dan BUMN, tapi justru adalah dunia usaha. 90 persen dari penciptaan lapangan kerja ada pada dunia usaha yaitu sektor swasta, dan berdasarkan undang-undang nomor 1 tahun 1987 bahwa dunia usaha atau sektor swasta ini diwakilkan ke KADIN. Karenanya saya berharap KADIN dapat fokus mengawal dan menciptakan kebijakan yang pro bisnis, terlebih kepada UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Agar UMKM ini bisa ikut menjadi tulang punggung ekonomi”.

Sandiaga melanjutkan bahwa ada peningkatan dalam jumlah UMKM yang ada di Indonesia. “Saya sudah ikut aktif dalam pembinaan UMKM selam 15 tahun, dan seperti yang disampaikan oleh S.R Yunastuti Daud. SE (KADIN Indonesia) ada pertumbuhan terhadap jumlah UMKM di sana. Akan tetapi peningkatan jumlah ini bukanlah prestasi, hal ini justru menunjukan ketidakmampuan pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada bisnis untuk menyerap tenaga kerja dan membantu pertumbuhan ekonomi. UMKM yang saat ini ada kebanyakan bukan by choice atau by design akan tetapi malah by necessity,” papar Sandiaga. Lalu menurut Sandiaga dari jumlah UMKM tersebut, nilai tambah (value added)  yang diberikan oleh UMKM hanya di bawah 10 persen.

“Ini yang menjadi PR untuk kita agar kita mengangkat UMKM ini sehingga mereka bisa tumbuh, dari mikro ke kecil, dari kecil ke menengah, dan dari menengah menjadi besar. Kenapa hal ini penting? karena mereka saat ini dikatakan sebagai penyelamat perekonomian, namun mereka belum bisa menjadi tulang punggung ekonomi karena belum memiliki nilai tambah yang besar. Untuk membangun UMKM ini pemerintah perlu membuat kebijakan yang berpihak kepada mereka,” ungkap Sandiaga.

Kemudian untuk berbenah agar UMKM mampu bersaing, ada 5 masalah yang harus diperbaiki yaitu korupsi, birokrasi pemerintah yang membebani, infastruktur yang belum terbangun, kebijakan yang tidak stabil dan berganti-ganti, serta akses modal yang sulit. “Hal-hal ini yang harus kita benahi, mudahkan birokrasi, bangun infrastruktur yang memadai, buat kebijakan yang berpihak pada UMKM, dan berikan akses untuk modal, fokus ke sana maka kita akan bisa menaikkan daya saing Indonesia,” ujar Sandiaga.

Pada sesi yang sama Guru besar Manajemen SDM UMY, Prof. Dr. Heru Kurnianto Tjahjono menjelaskan bahwa sekolah bisnis seperti MM/MBA seharusnya mendorong lulusan menjadi wirausaha tangguh berbasis pengetahuan sehingga karakteristik lulusannya memiliki mentalitas, pengetahuan dan perilaku yang sejalan dengan kompetensi wirausaha tangguh. Untuk itu sekolah bisnis harus mendorong budaya inovasi dan keterkaitan (engagement) dengan industri.